Tukang Pijat Tampan
Bahunya agak merosot turun, suaranya jadi lebih tenang.
“Klinik itu... cuma satu dari banyak wajah yang harus aku rawat. Di permukaan, ya, kita kasih terapi, layanan kecantikan, dan semacamnya. Tapi di balik itu, kita juga jadi pelampiasan untuk para lelaki kaya yang... lapar.”
Adit masih diam di tempat duduknya. Ia mendengar tanpa menyela.