Aku Pergi, Mas
Tapi, ketulusan Ammar seolah menariknya dalam lubang yang serupa.
Umpamanya, kini Elif tengah berdiri di depan pintu. Ragu untuk beranjak pergi, takut untuk mengetuk dan bertamu. Meski di balik pintu tersebut, seseorang telah menunggu dengan seonggok hati, bukan kopi atau sekedar basa-basi.
"Mengapa cinta harus semenyakitkan ini?" bisik Elif pada diri sendiri.