Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda
ucapku tak memberi kesempatan.
"Bara Bara, apa-apaan kau ini?. Kenapa harus tutup pintu segala sih?" protes Zaitun.
"Zaitun..." Aku mendesis sekonyong-konyong frustrasi. "Aku 'kan sudah bilang, kita akan bicara empat mata. Tapi kalau kamu tidak bersedia, pintunya tidak terkunci, kok!"
"Bukan begitu, Bara, tapi..."
Zaitun mendadak kehilangan kata. Gurat di wajahnya masih menyiratkan resah. Hanya saja, aku sudah terlanjur yakin akan satu hal.