Ada sesuatu tentang karakter gelap yang selalu bikin aku terpacu. Villain di novel fantasi modern itu lebih dari sekadar hambatan; mereka seringkali adalah elemen yang menghidupkan tema dan dunia cerita. Kalau villain cuma jahat tanpa alasan, aku cepat bosan karena tidak ada konflik batin atau gagasan besar yang dipertaruhkan.
Sering kali aku menemukan villain sebagai representasi nilai atau trauma yang ditolak oleh protagonis. Dalam beberapa buku, villain muncul karena luka masa lalu; di lain kesempatan, mereka mewakili sistem atau ideologi yang korup. Contohnya, perbandingan sederhana antara kejahatan yang bersifat supernatural di beberapa karya klasik dan kejahatan institusional di novel modern menunjukkan pergeseran fokus dari monster fisik ke monster yang muncul dari manusia dan struktur sosial.
Cara penulis menyajikan motivasi villain menentukan kekuatan narasinya. Aku paling terpikat saat penulis memberi ruang bagi pembaca untuk memahami logika villain tanpa harus menyetujui tindakan mereka — itu menciptakan ketegangan moral yang nyata. Pada akhirnya, villain terbaik yang kutemui adalah yang membuatku mempertanyakan nilai yang selama ini kukira pasti, dan itu selalu meninggalkan jejak lama dalam cara aku memahami cerita.