Selir Yang Terlupakan
tanyaku pelan saat kereta mulai bergerak.
Ia membuka matanya sebentar, tersenyum mengantuk, dan bergumam, "Pulang... ke rumah. Ke rumah yang ada dua sisi."
Hongwu mencium keningku, lalu kening putra kami. Kereta bergerak perlahan di bawah langit yang penuh bintang, melintasi perbatasan yang tak lagi memisahkan siapa pun. Di belakang kami, istana Selatan bersinar lembut. Di depan kami, istana Utara menyambut kami. Dan di antara keduanya, di hati kami bertiga, terbentang satu negeri yang tak terpisahkan — negeri yang dibangun di atas cinta, kepercayaan, dan kedamaian yang abadi.
— Selesai —