Darah dan Takdir
“Sang Cahaya bukanlah anugerah, melainkan kunci. Dan kunci harus dikorbankan agar gerbang tetap tertutup.”
Jantungnya berdebar lebih cepat, seolah-olah baru saja diseret ke dalam jurang yang selama ini ia takuti. Matanya kembali membaca baris itu, berharap bahwa ia hanya salah memahami maksudnya. Namun, tidak ada yang keliru dalam aksara itu. Peran yang selama ini dipujikan kepadanya, yang ia yakini sebagai kehormatan tertinggi, ternyata bukanlah takdir yang mulia. Itu adalah sesuatu yang jauh lebih gelap, lebih mengerikan. Ia bukanlah simbol harapan, tetapi alat yang telah dipersiapkan untuk sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.
Bab Populer