ログインGara-gara reuni, Adelia Putria kembali bertemu dengan Jendra Andriansyah, teman sebangkunya. Pria itu bahkan sudah menjabat sebagai wali kota! Hanya saja, Dela tak menyangka jika keduanya semakin dekat, tetapi status sosial di antara mereka membuat Dela ragu. Terlebih, Ibu Jendra menginginkan menantu dari keluarga yang setara untuk mendukung pria itu di periode kedua. Lantas, bagaimana kisah keduanya?
もっと見る“Heiii ... kamu mo ngapain berdiri di situ? Kamu mo merampok ya?” bentak seorang pria gagah di balik pagar hitam yang tinggi itu.
Si pemuda di balik pagar itu seketika memundurkan badannya dari pagar hitam itu karena kaget dengan bentakan bapak-bapak yang ada di balik pagar.
“Gak, Pak! Ehmmm ... anu, Pak ... saya mo ketemu Ibu Sonya!” jawab Arya yang juga memundurkan wajahnya dari pagar besar itu dengan suara gemetaran karena lumayan takut melihat pria bertubuh kekar dan besar di balik pagar itu.
Tak lama kemudian, pintu pagar hitam itu pun terbuka sedikit dan menyembulkan kepala pria kekar tadi.
“Gimana, Mas? Tadi saya kurang dengar!” ucap pria itu yang sekilas kalau dilihat sangat mirip dengan artis pemeran film laga tempo dulu, yaitu Advent Bangun.
Terlihat otot-otot lengan yang besar milik pria itu sangatlah menonjol, juga dengan dada sixpack-nya, karena sang pria hanya menggunakan celana panjang yang digulung hingga dengkulnya.
Tangannya terlihat membawa linggis besi. Hal itu membuat Arya makin ketakutan melihatnya.
“Aa ... aanu, Pak ... sesss ... sssaya mo ketemu Ibu Sonya!” ucap Arya mengulangi ucapannya tadi.
“Ada perlu apa dengan Ibu Sonya?”
“Saya mo melamar jadi sopir, Pak!” jawab Arya sambil agak membungkukkan tubuhnya untuk sedikit memberi hormat kepada pria besar itu.
“Kamu sudah ada janji dengan beliau?” tanya pria itu lagi.
“Ehmm ... sudah, Pak!” jawab Arya sambil sedikit melirik sebagian penampakan bagian depan rumah besar itu.
“Tunggu di sini!” balas sang pria. Pria itu pun memencet sebuah tombol di dekat pintu pagar, semacam interkom, untuk menghubungi seseorang.
“Halo, Bu Sonya. Ini ada laki-laki muda datang, katanya mo melamar jadi sopir!”
“Owh, suruh masuk aja, Pak Dirman!” terdengar suara perempuan di interkom itu, yang mungkin saja itu Ibu Sonya yang ingin ditemui Arya sore itu.
“Baik, Bu!” ucap pria kekar itu yang terdengar dipanggil dengan nama Dirman.
“Oke, Mas. Masnya disuruh masuk!”
“Terima kasih, Pak!”
Arya pun diantar masuk sampai ke teras halaman depan rumah itu dan Arya terbelalak melihat interior bagian depan rumah itu yang ternyata itu benar-benar rumah mewah. Seluruh bentuk interiornya bagaikan istana raja-raja yang suka Arya lihat di buku-buku dongeng kala kecil dahulu.
Terlihat taman yang sangat indah dan juga kolam ikan yang cukup lebar terhampar di bagian depan rumah mewah itu.
Belum lagi tanaman-tanaman yang berwarna-warni yang kayaknya itu tanaman berharga mahal yang menghiasi halaman depan rumah besar itu.
Cukup lama Arya duduk di bagian teras rumah mewah itu.
Saking lamanya, Arya mencoba membuka kembali sosmed I*-nya untuk mengecek kembali percakapan DM Arya dengan Ibu Sonya.
Adapun Arya bisa sampai di tempat ini karena secara tidak sengaja menemukan akun I* Ibu Sonya dan membaca salah satu posting-an Ibu Sonya itu kalau ada info lowongan pekerjaan sebagai sopir di rumah ini.
Arya kembali membuka-buka beberapa posting-an Ibu Sonya yang sekilas nampak sangat cantik dengan topi lebarnya.
Di beberapa posting-an, Arya melihat Ibu Sonya ini sering berada di lokasi-lokasi yang eksotis seperti pantai dan juga hotel-hotel mewah yang dekat dengan lautan.
Setelah menunggu kurang lebih setengah jam lamanya, akhirnya pintu besar di bagian depan rumah mewah itu sedikit terbuka dan muncul seorang perempuan sekira-kira umuran 35 tahun, kulit sawo matang, berwajah manis dengan tubuh yang cukup ideal untuk mempersilakan Arya masuk ke dalam untuk duduk di ruang tengah rumah mewah itu.
“Dengan Mas Arya ya?” tanya sang perempuan itu.
“Iya betul, Mbak,” jawab Arya dengan sopan sambil tersenyum.
“Ayo masuk ke dalam, Mas Arya!”
Arya pun mengikuti ke mana si perempuan itu berjalan. Arya makin terbengong-bengong melihat seluruh isi rumah besar dan mewah itu.
“Monggo, silakan Mas Arya duduk dulu di sini, karena Ibu Sonya masih di lantai atas,” ucap perempuan itu dengan senyum manisnya.
Arya pun duduk sambil tetap menatap kagum dengan seluruh isi dan interior rumah mewah itu.
Ia pun melihat ada tangga putih yang cukup lebar anak tangganya dengan warna putih meliuk sampai ke atas.
Tebakan Arya mungkin kamar Ibu Sonya itu ada di atas tangga itu.
“Oiya, Mas Arya mo minum apa?” tanya si perempuan yang nampak memakai baju semacam kebaya dengan belahan dada cukup rendah sehingga agak terlihat belahan dadanya yang cukup membuat mata Arya terkesiap melihatnya.
“Apa aja, Mbak. Maaf merepotkan!” ucap Arya sambil tersenyum lagi.
Seketika perempuan itu pun berlalu. Saat berbalik badan, nampak sekali tubuh semok si perempuan tadi dengan baju kebaya rumahan dan rok batik yang ia pakai.
Bentuk pinggulnya yang proporsional kembali membuat mata Arya terkesiap dan jakunnya naik turun melihatnya.
Nampaknya perempuan montok itu seorang asisten rumah tangga di rumah mewah itu.
Tak lama kemudian, si perempuan sudah kembali dengan membawa baki berisi segelas teh hangat plus dua toples berisi kue nastar dan kue keju yang biasanya sering muncul di momen-momen Lebaran.
“Ayo, Mas. Monggo diminum dan dicicipi dulu kuenya!” ucap si perempuan tersenyum dengan sopan.
“Baik, Mbak. Terima kasih, Mbak!” ucap Arya sambil mencoba menyeruput gelas yang berisi air teh hangat itu.
Sementara waktu sudah semakin sore mendekati pukul 18.00 sore, yang artinya sebentar lagi azan Magrib akan bergema.
“Gimana, Mas? Rasanya teh buatan saya?” tanya si mbaknya.
“Wahhh ... enak, Mbak ... Mbakkk ...?” ujar Arya sambil bermaksud menanyakan nama perempuan itu.
“Tini, Mas. Nama saya Surtini. Panggil saja Mbak Tini!” ujar Mbak Tini sambil tersenyum menyodorkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
Mereka pun saling berjabatan tangan karena Mbak Tini tahu kalau Arya ini akan menjadi bagian dari rumah itu ke depannya jika memang benar nantinya jadi bekerja sebagai sopir untuk Ibu Sonya.
“Terima kasih atas teh manisnya. Enak, Mbak Tini!” ujar Arya lagi yang kali ini dengan nada yang lebih lepas karena mencoba lebih akrab dari sebelumnya.
Karena Arya pun tahu kalau ia jadi bekerja di situ akan sering bercengkerama dengan Mbak Tini dan juga Pak Dirman tadi.
“Syukurlah kalo Mas Arya suka. Ayo Mas Arya dicoba juga donk dengan kue-kuenya. Itu aku bikin sendiri loh, Mas!” pinta Mbak Tini sambil membuka kedua penutup toples itu untuk mempersilakan Arya mencicipi kedua kue itu.
Arya pun menurut dan mengambil masing-masing satu kue, baik kue nastar maupun kue keju.
“Hmmm ... enak banget, Mbak. Wah, Mbak Tini ini kayaknya memang jago bikin minuman dan makanan!” ujar Arya sambil mengunyah kedua kue tersebut.
Terlihat Mbak Tini tertawa kecil dan merasa puas dengan ucapan Arya tadi.
“Syukurlah kalo Mas Arya suka!”
Baru saja Mbak Tini selesai berucap, tiba-tiba terdengar langkah kaki dari atas tangga yang mengarah turun ke bawah.
Tak tok tak tok tak tok!
Ternyata itu bunyi suara sepatu sandal dari Ibu Sonya.
Seketika Mbak Tini pun memberitahukan Arya kalau yang sedang berjalan dari tangga atas itu adalah Ibu Sonya.
“Tiniiii ... sudah kamu sediakan tamu kita minuman dan makanan?” teriak suara perempuan cantik yang sedang berjalan turun di tangga lebar itu.
Arya pun mendongak ke atas, matanya tertuju ke arah suara perempuan tadi.
Nampaklah di pandangan Arya yang bikin Arya takjub karena Ibu Sonya yang ia sempat lihat di akun I*******m-nya itu ternyata jauh lebih cantik aslinya saat Arya melihat langsung.
Perempuan yang bernama Sonya itu berkisar umur 40 tahun, berkulit putih bening, dan bertubuh sintal berbalut baju tidur dengan rambutnya ditutupi handuk yang melibat kepalanya.
Wajahnya sangat mirip dengan bintang film India Kareena Kapoor yang cantik dan seksi.
Bibir Ibu Sonya terlihat tebal dan matanya besar. Ia saat itu memakai baju tidur berbahan handuk halus dengan bagian atas baju tidurnya agak terbuka, sehingga dada putih bagian atasnya agak terlihat sangat bening dan mulus.
Sangat terlihat kalau Ibu Sonya itu rajin perawatan tubuh.
“Wah, Ibu Sonya abis mandi ya, Bu?” ujar Mbak Tini yang tetap saja ikut terpesona melihat sang majikan, padahal ia telah bertahun-tahun bekerja di rumah itu, namun tetap saja Mbak Tini sangat mengagumi kecantikan sang majikan.
“Ya, Mbak. Aku cukup kecapean kemarin pulang larut malam sehingga seharian tadi ketiduran cukup lama dan baru tadi baru sempat mandi!” balas sang majikan.
“Sekarang Mbak Tini boleh pergi dari sini. Saya mo interogasi dulu ini anak!” ucapnya sambil melirik Arya dengan pandangan yang dingin.
“Baik, Bu!” ujar Mbak Tini sambil menatap sebentar ke wajah Arya. Dalam hatinya, Mbak Tini bergumam kalau menurutnya Arya terlalu ganteng untuk menjadi sopir karena melihat perawakan Arya.
Arya memiliki kulit putih bersih, berwajah tampan dengan hidung mancung, rambut cepak seperti tentara, nampak seperti sosok artis Adjie Massaid.
Bibir Arya juga terlihat seksi untuk ukuran seorang laki-laki.
Pagi setelah Dela mengakhiri hubungan kami, aku benar-benar kalut. Aku langsung memerintahkan Aldo untuk kembali ke kota Aare. Dalam pikiranku, satu-satunya cara agar Dela tidak pergi dariku adalah menemui orang tuanya dan langsung melamarnya. Mungkin Dela akan marah, tapi aku tidak peduli. Salahkan dia yang seenaknya mengambil keputusan sendiri. Aku juga bisa seperti itu. Saat aku menyuruh Aldo untuk dia langsung ke rumah Dela, dia menolak ideku. “Maaf, Pak, sekarang sudah malam. Sangat tidak sopan kalau Bapak ke sana malam-malam.” “Terus kapan, Do? Saya gak mau menunggu lama-lama.” Aldo menghela nafas pelan.,“Besok pagi saja, Pak Jendra. Malam ini Bapak bisa istirahat dulu. Tidak mungkin Bapak menemui orang tua Bu Dela dengan keadaan kacau seperti ini.” Aku berpikir sebentar, apa yang diucapkan Aldo ada benarnya juga. Gak mungkin aku ketemu orang tuanya dengan kondisiku yang kacau begini. Akhirnya, aku memutuskan untuk pulang ke rumah dinas.Keesokkan harinya, aku sudah segera
"Ma, aku udah bilang mau membatalkan perjodohan ini. Kenapa Mama masih aja maksa aku?" "Ini semua demi kamu, Jendra, demi masa depan karir kamu. Cinta bisa datang setelah kalian menikah." Klise. Jujur saja aku meremehkan pendapat mama dalam kepalaku. Namun, saat bicara aku berusaha membuat nada suaraku senormal mungkin. "Aku sama sekali gak pengen meraih kesuksesan menggunakan cara seperti ini. Kalau memang masyarakat puas dengan kinerjaku selama periode ini, pasti mudah untuk melanjutkannya lagi." "Meski begitu kamu juga harus tetap punya penguasa yang akan mendukung kamu demi melancarkannya!" Halo? Ingin rasanya aku menunjuk diriku sendiri. Apa seorang lelaki dewasa berumur 28 tahun seperti diriku tidak pantas disebut sebagai ‘penguasa’ karena hanya memimpin perusahaan-perusahaan warisan sang ayah di bawah ketiak ibunya? Aku menggelengkan kepala tidak percaya. "Mama masih gak percaya dengan kemampuanku dan orang-orang yang selama ini mendukungku? Apa selama ini semua pencapaia
Sore hari aku kembali ke kantor setelah sejak pagi melakukan peresmian maupun pengecekan proyek di beberapa daerah. Sebenarnya aku lelah, tapi beberapa berkas proyek dari kantor dinas yang ada di atas mejaku membutuhkan tanda tanganku. Saat sedang sibuk membaca dengan teliti berkas yang ada di tanganku, pintu diketuk dari luar. "Masuk," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari berkas. "Maaf, Pak Jendra, di luar ada Bu Tari," ucap Aldo. Memejamkan mata sejenak menahan kesal, aku mengangkat kepala dan berkata, "Antarkan dia ke sini." Aku tahu tidak bisa terus begini, semuanya harus segera diputuskan. Malam setelah pertemuan pertama keluarga dulu, beberapa kali Tari memang mencoba menghubungiku dan mengajakku bertemu, tapi selalu kutolak dengan berbagai alasan. "Maaf, Mas Jendra, Tari harus datang ke sini," cicit Tari begitu berdiri di hadapanku. Tangannya tertaut, cara bicaranya gugup. Cari simpati dia? "Hmm." Berdiri dari kursiku, aku berjalan menuj
Setelah sambungan telepon terputus, aku yang saat ini berada di dalam toilet menatap pantulan diriku pada cermin. Aku merasa bersalah pada Dela karena telah meninggalkannya sendirian di restoran, padahal aku yang mengajaknya ke sana. Andai saja Mama tidak memaksaku untuk bertemu dengan tamunya, aku tidak akan meninggalkan Dela sendirian. Aku membasuh wajahku agar lebih segar. Hatiku tiba-tiba diliputi rasa gelisah.Terdengar pintu kamar mandi diketuk dari luar."Pak Jendra, apa masih lama di dalam toiletnya?" Terdengar suara Aldo memanggil.Menghela napas, lalu aku sekali lagi mengambil tisu untuk mengeringkan sisa-sisa air di wajahku, sebelum kemudian bergerak membuka pintu toilet."Maaf, Bapak ditunggu Bu Wahyu di ruang makan karena sebentar lagi makan malamnya selesai.""Hmm," jawabku dengan gumaman malas, kemudian melangkahkan kaki menuju ruang makan diikuti Aldo.Sesampainya di ruang makan, orang-orang masih duduk dengan pos
Usai makan bersama, aku dan Jendra bersantai di gazebo yang ada di halaman belakang rumahnya yang dikelilingi oleh taman yang berisi bunga-bunga indah ditemani oleh beberapa camilan yang tadi dibuatkan oleh asisten rumah tangga Jendra. Awalnya kami bertiga—aku, Jendra, dengan Dinda—tapi tadi Dind
Tak terasa sudah hari Senin lagi. Setelah dadakan cuti hari Jumat kemarin, Shela langsung memberondongku dengan pertanyaannya. Kami baru sempat bertemu di kantor, karena kemarin aku kembali ke apart malam hari. Salahkan saja Jendra yang menahanku di apartnya begitu kami sampai di Ibukota. Dia bar
Aku berjalan ke dalam kamar mandi membawa kaos dan handuk yang tadi diberikan oleh Jendra. Di dalam kamar mandi, aku berhenti di depan kaca. Menatap bayangan diriku disana, memegang pipiku yang memerah malu. Aku masih tidak percaya, rasanya seperti mimpi kalau Jendra benar mencintaiku. Menggeleng
Aku yang sedang memainkan ponselku, menoleh ke arah samping saat merasakan pergerakan disisi sofa. Setelah menyelesaikan panggilan teleponnya Jendra duduk disampingku. "Makasih kopinya,"ucapnya seraya menarik kopi yang aku letakkan di meja depan kami. Kami terdiam cukup lama, aku yang m






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー