ทะลุไปเป็นอาจารย์ตัวประกอบเพื่อสอนรัก...พระเอก

ทะลุไปเป็นอาจารย์ตัวประกอบเพื่อสอนรัก...พระเอก

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-07-03
Bahasa: Thai
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
224Bab
4.5KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

เมื่อสาวเวอร์จิ้นยุคปัจจุบันที่ไม่รู้จักแม้แต่การตกหลุมรักใครสักคน หรือความรักในรูปแบบของคนรัก กลับถูกส่งตัวเข้าไปในนิยายเพื่อสอนเรื่องรัก ๆ ให้กับพระเอก งานนี้จะรุ่งหรือร่วงก็คงต้องวัดกันเสียแล้ว

Lihat lebih banyak

Bab 1

บทที่ 1 (1/2) : อย่าบอกนะว่า...(1)

“Hei Ren,” sapa Dio yang terlihat membawa tumbler dengan merk sebuah gerai kopi ternama.

Siapa yang tidak mengenal Narendra di perusahaan tempatnya bekerja. Casanova yang juga menjabat Direktur Legal. Tidak ada seorang pun di perusahaan itu, atau mungkin bahkan di Jakarta, yang memiliki jam terbang pacaran sebanyak dirinya.

“Lo masih sama Ratri?” Dio menarik lengan Naren untuk mengajaknya ke tukang bubur yang berada di belakang kantor mereka.

Dio yang juga merupakan teman semasa kuliah Naren dan masuk ke perusahaan yang sama—hanya berbeda departemen—tentu saja tahu sepak terjang Narendra.

“Ratri?”

“Shit! Masih aja lo ya. Abis macarin anak orang trus dilupain begitu aja.”

Naren masih terlihat berpikir keras mengingat-ingat siapa sosok Ratri yang dibicarakan Dio.

“Adiknya Friska, temen kuliah kita. Friska juga pernah lo pacarin. Pasti lo lupa juga. Udah deh, capek bikin lo inget. Intinya, sekarang lo lagi ada cewek nggak?”

“Ada. Danisha.”

“Siapa lagi itu Danisha?”

Naren mengedikkan bahu. “Cewek. Ketemu di car free day.”

“Anjir! Gue bener-bener harus berguru dari lo deh.” Dio menatap Naren dengan penuh harapan.

Naren membiarkan Dio mencari tempat duduk, sementara dia memesankan 2 mangkuk bubur ayam buatnya dan temannya itu.

“Lo bawa kopi dari tempat mahal, tapi sarapannya bubur ayam,” ledek Naren.

“Lah, siapa bilang ini isinya kopi?” Dio terbahak. “Orang isinya air putih. Go green, Ren.”

“Hmm ... apalagi kalo liat duit ya, mata lo juga go green.”

“Sialan! Jadi menurut lo departemen finance mata duitan?”

“Iya, emang gitu kan.”

Dua mangkuk bubur ayam beserta dua gelas teh tawar hangat kini terhidang di depan mereka.

“Eh Ren, lo udah denger belum sih kalo bakalan ada pegawai pindahan dari cabang?”

“Oh, yang program penghargaan itu jadi lanjut?” tanya Naren terlihat tidak terlalu tertarik.

“Iya, 2 orang, cewek, gue harap sih lo ngalah kali ini, biarkan cowok-cowok di kantor ini juga dapet kesempatan untuk deketin mereka. Dan salah satunya bakal masuk ke departemen gue. Awas aja lo mainin dia.”

“Kenapa gue harus ngalah?” senyum licik terpancar dari wajah Naren. “Ya tapi kan belum tentu juga gue tertarik.”

“Lo kapan tobatnya sih?”

Naren pun tidak pernah tahu kapan dia bisa bertaubat dari petualangan tiga puluh harinya.

“Jadi si Danisha ini sisa berapa lama lagi waktunya?”

Bagi yang tidak mengenal mereka berdua, percakapan mereka terdengar seperti membicarakan seseorang yang sedang sakit keras dan menghitung waktu hidupnya berapa lama lagi. Namun bukan itu. Waktu yang dimaksud Dio adalah hitungan masa pacaran Naren dan cewek yang bernama Danisha itu.

Naren mengeluarkan ponselnya dan mengecek aplikasi reminder yang dia gunakan juga untuk mencatat jadwal meetingnya.

“Gue jadian sama dia tanggal 5 bulan ini, karena bulan ini ada 30 hari, berarti gue bakal mutusin dia tanggal 4 bulan depan.”

Dio mendecakkan lidahnya, “Gue nggak habis pikir, dari mana sih lo terinspirasi pacaran tiga puluh hari gitu? Lo nggak takut kena karma?”

“Emang ada karma di dunia ini?” Naren tersenyum meremehkan. Ya, dia memang tidak pernah percaya adanya karma. Ibunya yang pergi meninggalkannya dengan lelaki lain dan ayahnya yang sering berganti perempuan membuatnya tidak mengakui adanya karma.

***

“Hai, boleh kenalan?” sapa seorang gadis berkaca mata. Gadis itu mengenakan celana kulot berwarna navy dan atasan blouse bermotif floral.

“Hai, Aku Kaira Felora. Panggil aja Kaira. Kamu yang pindahan dari kantor cabang juga kan?”

Gadis itu menyambut uluran tangan Kaira. “Aku Rhea.” Terlalu rumit baginya jika harus menyebutkan nama panjangnya, maka dia memilih mengenalkan nama panggilannya saja.

Hanya ada dua gadis itu di dalam ruang meeting. Entahlah ke mana pegawai yang tadi mengarahkan mereka ke ruangan itu.

“Deg-degan nggak sih?” tanya Kaira.

“Iya, kayak baru masuk kerja ya. Padahal aku di kantor cabang udah enam tahunan, apa lebih ya?” Rhea menggaruk tengkuknya sambil berpikir.

“Kamu dapet halangan nggak sih waktu ditawarin pindah ke kantor pusat? Dari keluarga, pacar, atau suami gitu?”

Rhea tersenyum mengingat saat-saat ia menyampaikan berita kepindahannya ke kantor pusat. “Boro-boro, papa sama mamaku malah seneng banget. Disuruh ngurus rumah yang di sini. Beberapa tahun lagi papaku pensiun, mungkin abis itu pada pindah ke sini. Oh iya, aku dulu sekolah di sini, cuma karena papaku sering pindah tugas, jadi ngikut Papa ke mana-mana.”

“Kalo pacar atau ... suami?”

Rhea menatap Kaira dan memahami maksud ekspresi yang ditunjukkannya, “Aku nggak ada pacar dan belum nikah. Nggak usah ngerasa nggak enak gitu ah, udah kebal aku dapet pertanyaan itu. Makanya orang tuaku udah resah dan gelisah.” Rhea terbahak. “Justru aku pindah karena capek denger omongan orang. Kamu gimana?”

“Aku ... sebenernya hampir lamaran beberapa bulan lalu, tapi gagal, dan yaaa ... sama kayak kamu, males denger omongan orang, makanya aku nerima tawaran ini.” Kaira mendadak terlihat sendu. “Eh ini kita baru kenalan kenapa udah ngomong yang pribadi banget gini ya?”

“Abisnya nggak mungkin kan kita ngomongin strategi perusahaan.”

Keduanya terbahak, lalu tiba-tiba terdiam ketika seorang lelaki yang diprediksi Rhea sebagai Direktur HRD masuk ke dalam ruang meeting diikuti beberapa orang di belakangnya.

Rhea dan Kaira berdiri dan mengangguk dengan sopan.

“Selamat pagi. Saya Radith, Direktur HRD.”

Keduanya menerima jabat tangan dari lelaki itu.

“Pertama, saya ingin berterima kasih atas kinerja yang kalian berdua berikan di kantor cabang, dan saya harap kalian bisa memberikan sumbangsih yang sama besar atau bahkan lebih besar di kantor pusat. Kedua, saya ucapkan selamat datang di kantor pusat, dan selamat bekerja, semoga betah ya. Boleh saya kenalan dulu?”

“Saya Rhea Pak.”

“Rhea, yang dari kantor cabang Batam kan?”

“Iya Pak.”

“Ok, nanti kamu ditempatin di divisi audit internal, di bawah Departemen Finance ya. Sesuai dengan keahlianmu. Dan kamu berarti Kaira?”

“Iya Pak, saya Kaira dari kantor cabang Surabaya.”

“Kamu nanti di bawah humas ya. Kayaknya kita cukupkan perkenalan kita ya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas kinerja kalian. Oh iya, hampir lupa, sebagai salah satu reward buat kalian, Pak Presdir ngajak makan siang nanti sama beberapa orang lainnya. Nanti biar sekretaris saya yang hubungi kalian ya.” Lelaki bernama Radith itu memberikan kode kepada sekretarisnya untuk membantu Rhea dan Kaira.

Usai perkenalan singkat itu, Rhea dan Kaira terpaksa berpisah karena lokasi departemen mereka yang berbeda.

Keduanya kembali bertemu saat Dinda—sekretaris Direktur HRD—memanggil mereka untuk berangkat menuju hotel tempat diadakannya makan siang bersama.

“Aku cuma ngantar kalian sampai sini ya.” ucap Dinda yang menitipkan mereka ke sekretaris Presdir yang terlihat sedang mangamati siapa saja yang belum sampai di restoran Hotel Pullman yang berada di kawasan bundaran HI itu.

“Loh, Mbak nggak ikut?”

“Nggak, itu kan acara buat para direktur sama kalian. Aku sih mau makan di GI sama temen.”

“Serius Mbak?” tanya Kaira yang mulai gelisah.

“Iya, beneran. Good luck ya. Nggak usah tegang. Direktur kita ganteng-ganteng kok. Lumayan buat cuci mata.” Dinda meninggalkan keduanya sambil terkekeh.

Erika--sekretaris Presdir yang bertugas mengatur jamuan itu—mengantarkan keduanya ke salah satu meja yang sudah di-booked.

“Santai aja, belum pada dateng, boleh kok kalo mau langsung ambil makanan yang ada. Buat ngemil-ngemil dulu. Aku tinggal dulu ke depan ya.”

“Ini ngapain sih kita mesti diajak makan gini?” Rhea menghembuskan napas berat setelah Erika pergi.

Kaira hanya terkekeh melihat ketidaknyamanan Rhea.

“Pak Dio.” Rhea yang mengenali direktur di departemennya itu, merasa sedikit lega karena akhirnya melihat sosok yang dikenalnya.

Dio melempar senyumnya. Ia datang bersama Naren dan langsung mengambil posisi duduk di depan kedua wanita itu.

Pandangan Rhea tidak bisa beralih dari lelaki yang duduk di samping Dio. Rasanya seperti tersedot ke masa lalu. ‘Naren?’

Kesadaran itu seketika menamparnya dan membuatnya menundukkan kepala, berharap lelaki itu tidak menyadari keberadaannya, ‘Kenapa ada dia? Dia inget gue nggak ya? Mampus gue.’

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya
Tidak ada komentar
224 Bab
บทที่ 1 (1/2) : อย่าบอกนะว่า...(1)
“มีเมียทั้งหมดสี่ร้อยยี่สิบเก้าคน!” ใบหม่อนหรือเมิ่งเจียวซินอุทานออกมาอย่างลืมตัว หลังจากที่เธอต้องเอาเวลาพักของตัวเองมาทนอ่านนิยายของผู้เป็นน้องชายเกือบสองวัน ซึ่งตอนนี้เธอก็ได้อ่านมาจนถึงบทสุดท้ายของเรื่องแล้ว “ที่ไม่มีลูก ไม่ใช่เพราะฝีมือของตัวร้าย แต่เป็นเพราะพระเอกส่งคนไปผสมยาห้ามครรภ์ในอาหารและน้ำดื่มของสตรีทุกคนทันที หลังจากที่เจ้าตัวไปมีอะไรด้วยเนี่ยนะ เหอะ!” ยิ่งอ่าน เธอก็ยิ่งรู้สึกหงุดหงิด แต่ใบหม่อนก็ยังคงพยายามฝืนล้มตัวลงไปนอนอ่านนิยายต่อ...จนมาถึงบรรทัดสุดท้าย “พระเอกระเบิดตัวเองตาย อาหวงนิยายอะไรของแกเนี่ย!” ใบหม่อนรีบยกมือขึ้นมาปิดปากของตัวเอง ก่อนจะพยายามสงบสติอารมณ์ หลังจากอ่านคำว่า ‘จบ’ ที่โชว์หลาอยู่บนหน้าจอโทรศัพท์มือถือ จากนั้นเธอจึงรีบลุกขึ้นมานั่ง แล้วไถหน้าจอลงไปไล่อ่านข้อความของนักอ่านคนอื่น ๆ โดยทุกข้อความแสดงออกให้รู้ว่านักอ่านคนอื่น ๆ ก็รู้สึก และมีความคิดเห็นไม่ต่างไปจากเธอเลย ซึ่งบางคนก็ดูเหมือนว่าจะมีอาการหนักกว่าเธอด้วยซ้ำ เพราะอีกฝ่ายเสียเงินซื้อตอนติดเหรียญ เพื่อเข้าไปอ่านฉากเซอร์วิสระหว่างพระเอกกับเหล่าบรรดาเมีย ๆ ของเจ้าต
Baca selengkapnya
บทที่ 1 (2/2) : อย่าบอกนะว่า...(2)
กริ๊ง...กริ๊ง... ใบหม่อนเอื้อมมือไปปิดเสียงนาฬิกาปลุก ก่อนจะกล่าว “อาหวง เอาเป็นว่า แกก็ลองไปไล่อ่านข้อความของนักอ่านในบทสุดท้ายดูแล้วกันนะ เพราะพี่เองก็คิดเห็นไม่ต่างไปจากนักอ่านส่วนใหญ่ของแกเลย แค่นี้ก่อนนะ ถึงเวลาที่พี่ต้องเข้าไปตรวจดูอาการของคนไข้แล้วน่ะ” (ได้ แต่พี่หม่อน...ถ้าว่างพี่ก็เข้ามาหาแม่บ้างนะ) “อืม” (อย่างนั้นผมไม่กวนละ ดูแลตัวเองด้วยนะพี่) หลังจากวางสาย ใบหม่อนก็เลื่อนปิดหน้าอ่านนิยายที่แสดงอยู่บนหน้าจอ แล้วนำโทรศัพท์มือถือไปวางไว้บนโต๊ะข้างเตียง ก่อนจะหยิบสมุดกับปากกา จากนั้นเธอจึงเดินออกมาจากห้องนอนของตัวเอง เพื่อไปตรวจดูอาการของคนไข้ที่ยังคงนอนไม่ได้สติมาเกือบสามเดือนแล้ว ซึ่งเธอได้รับหน้าที่มาเป็นพยาบาลพิเศษให้เป็นการชั่วคราว เนื่องจากคนไข้ที่เธอต้องเข้ามาดูแลก็คือ หลานชายคนโตของท่านเจ้าสัวหลี่อวิ้นเจียง โดยท่านเจ้าสัวหลี่อวิ้นเจียงเป็นทั้งเจ้าของโรงพยาบาลเอกชนชื่อดัง แล้วยังเป็นหุ้นส่วนรายใหญ่ของโรงงานผลิตอาหารไทยแช่แข็ง ซึ่งโรงงานดังกล่าวเป็นของคุณยายใบบัว ยายแท้ ๆ ของใบหม่อน แล้วที่สำคัญท่านเจ้าสัวหลี่อวิ้นเจียงยังเป็นเ
Baca selengkapnya
บทที่ 2 (1/2) : ทำไมถึงต้องเป็นเธอ? (1)
“ไม่จริงใช่ไหมเนี่ย?” ใบหม่อนหรือเมิ่งเจียวซินเอ่ยขึ้น เพราะเธอยังตั้งรับกับเรื่องที่เกิดขึ้นในตอนนี้ไม่ทัน (โฮสต์ไม่จำเป็นต้องพูดโต้ตอบกับทางระบบค่ะ เพราะทางที่ดีพวกเราควรสื่อสารกันทางจิตน่าจะสะดวกกับทางโฮสต์มากกว่าค่ะ) “เดี๋ยวก่อนนะคะ ฉันขอตั้งสติสักครู่ค่ะ” เมิ่งเจียวซินยังคงตอบกลับอีกฝ่ายด้วยการพูด ก่อนจะหลับตาลงเพื่อรวบรวมสติแล้วลืมตากลับขึ้นมามองมือ แขน และชุดที่เธอกำลังสวมใส่ จากนั้นเธอจึงมองไปยังบริเวณโดยรอบพร้อมกับคิดในใจ ‘อย่าบอกนะว่า...ตอนนี้ฉันทะลุมิติเข้ามาในนิยาย แล้วถ้าหากเป็นเรื่องจริงในนิยายส่วนใหญ่คนที่ทะลุมิติเข้าไปในนั้น ก็มักจะทะลุเข้าไปในนิยายเรื่องที่เพิ่งจะอ่านจบ หรือกำลังอ่านอยู่ก่อนตาย...’ (โฮสต์ใจเย็นก่อนนะคะ ตอนนี้อีกร่างหนึ่งของโฮสต์ยังไม่ตายค่ะ แต่ที่โฮสต์คิดเกี่ยวกับเรื่องของนิยายนั้นถูกต้องแล้วนะคะ เนื่องจากทางเราได้รับรู้ถึงความเจ็บปวดใจของนักอ่าน ที่ได้เข้าไปอ่านนิยายของน้องชายโฮสต์ ซึ่งตอนนี้ก็มีจำนวนเพิ่มมากขึ้นเรื่อย ๆ และหนึ่งในความเจ็บปวดใจนั้นก็คือตัวโฮสต์เอง ดังนั้นในฐานะที่โฮสต์เป็นพี่สาวของคนเขียนนิยายเรื่องนี้
Baca selengkapnya
บทที่ 2 (2/2) : ทำไมถึงต้องเป็นเธอ? (2)
เมิ่งเจียวซินรีบสลัดสิ่งที่คิดออกจากสมอง แล้วลองตอบกลับอีกฝ่ายทางจิต ‘ได้ค่ะ’ (เงื่อนไขอย่างแรก เป็นสิ่งที่โฮสต์จะต้องรับรู้ คือ เวลาในโลกใบนี้หากเทียบกับเวลาในโลกใบเดิมของโฮสต์จะแตกต่างกันอยู่สามสิบวันค่ะ หมายถึง เวลาที่โฮสต์ใช้ชีวิตอยู่ที่นี่สามสิบวันจะเทียบเท่ากับเวลาในโลกใบเดิมของโฮสต์เพียงแค่หนึ่งวันเท่านั้น เงื่อนไขอย่างที่สอง คือ เรื่องที่ทางเราเปิดระบบพิเศษให้กับโฮสต์ภายใต้ชื่อที่ว่า ‘รับรู้แล้วแก้ไขไปพร้อมกับการเรียนรู้ด้วยชีวิตจริง’ ความหมายก็ตรงตามนั้นเลยว่า ชีวิตในโลกใบนี้เปรียบประดุจดังชีวิตจริงของโฮสต์ เพราะในโลกใบนี้โฮสต์ทั้งบาดเจ็บได้ เจ็บป่วยได้ ตายจริง และมีเพียงแค่ชีวิตเดียว ซึ่งถ้าหากโฮสต์เสียชีวิตลงในโลกใบนี้ ก่อนจะทำภารกิจที่ทางระบบมอบให้เสร็จ อีกร่างหนึ่งในโลกใบเดิมของโฮสต์ก็จะเสียชีวิตลงไปด้วยทันทีค่ะ ดังนั้นสองปีในโลกใบนี้โฮสต์จะต้องดูแลชีวิตของตัวเองให้ดี แต่ทางเราก็มีเงื่อนไขพิเศษเพิ่มให้กับโฮสต์ด้วยนะคะ คือ...ตัวละครตัวนี้หากเป็นไปตามบทเดิมจะต้องเสียชีวิตในอีกหนึ่งปีข้างหน้า หากในช่วงเวลานั้นโฮสต์ทำภารกิจสามในห้าสำเร็จ โฮสต์ก็จะสาม
Baca selengkapnya
บทที่ 3 (1/2) : หาข้อดีในเวลาที่รู้สึกแย่ (1)
เมิ่งเจียวซินนั่งทำใจสักพัก ก่อนจะเดินไปเปิดบานหน้าต่างเพื่อสำรวจสิ่งต่าง ๆ รอบเรือน พอเห็นบรรยากาศโดยรอบ ตอนนี้น่าจะเข้าสู่ต้นยามโหย่วแล้ว (ยามโหย่ว เวลา 17:00 – 18:59 น.) หลังจากนั้นเมิ่งเจียวซินจึงนึกไปถึงสิ่งที่คุณยายใบบัวเคยสอนเธอเอาไว้ว่า ‘ให้หาข้อดีในเวลาที่รู้สึกแย่ที่สุด’ ก่อนที่เธอจะหลับตาของตัวเองลง แล้วคิดในใจว่า... ‘ดี! ที่นิยายเรื่องนี้ของอาหวงเป็นแนวจีนโบราณ’ ‘ดี! ที่เราชอบอ่านนิยายแนวนี้อยู่แล้ว’ ‘และโชคดี! ที่ชีวิตในโลกใบเดิมของเรามักจะได้ออกเดินทางไปตามสถานที่ต่าง ๆ พร้อมกับหน่วยแพทย์อาสาอยู่บ่อยครั้ง เพราะมันได้ช่วยฝึกให้เราต้องคอยตั้งรับ ปรับตัว และยังต้องคอยเตรียมรับมือกับทุกการเปลี่ยนแปลงที่ผ่านเข้ามาในระหว่างการปฏิบัติหน้าที่อยู่เสมอ ดังนั้นการเปลี่ยนแปลงในชีวิตของเราเวลานี้ เราก็แค่ต้องคอยรับมือ เตรียมทำทุกอย่าง และหาวิธีก้าวผ่านมันไปให้ได้ก็เท่านั้นเอง’ เมื่อคิดได้ดังนั้นเมิ่งเจียวซินจึงนึกไปถึงข้อมูลคร่าว ๆ ของโลกใบนี้ รวมไปถึงข้อมูลเบื้องต้นของพระเอกที่อาหวงได้บรรยายเอาไว้ในช่วงแรกของนิยาย... โลกใบนี้ได้ถูกแบ่งเขตแ
Baca selengkapnya
บทที่ 3 (2/2) : หาข้อดีในเวลาที่รู้สึกแย่ (2)
หลี่อวิ้นกุยเกิดมาพร้อมกับการจากไปของผู้เป็นมารดา เขาจึงไม่เป็นที่ต้อนรับของคนในครอบครัว ชีวิตความเป็นอยู่ของเขาในยามนั้นแย่ยิ่งกว่าบ่าวรับใช้ในเรือนหลังนั้นเสียอีก แม้ว่าผู้เป็นตากับยายจะรับตัวเขากลับมาอยู่ที่เรือนหลักของตระกูลแล้ว แต่ก็ได้ส่งตัวเขาให้บ่าวก้นครัวเป็นผู้ดูแล เขาจึงเติบโตมาพร้อมกับความเกลียดชังของคนในครอบครัว แล้วในทุกครั้งที่มีคนในครอบครัวบังเอิญเดินมาเจอกับหลี่อวิ้นกุย ก็มักจะด่าทอเขาด้วยคำพูดที่ว่า เขาคือคนทำให้มารดาของตัวเองต้องตาย! แล้วทุกอย่างก็ได้ผ่านล่วงเลยไปแบบนั้น จนมาถึงวันหนึ่งในขณะที่หลี่อวิ้นกุยวัยเจ็ดหนาวตามคนครัวออกไปช่วยซื้อของในตลาดเหมือนทุกวัน เนื่องจากในช่วงเช้าแม่ครัวทุกคนจะยุ่งอยู่กับการเตรียมอาหารจนไม่มีเวลามาคอยดูแลเขา ซึ่งทุกคนในครัวต่างก็รู้ดีว่าหากทิ้งเด็กชายเอาไว้เพียงลำพัง บุตรของบ่าวในเรือนส่วนอื่น ๆ จะเข้ามาล้อเลียน กลั่นแกล้ง และคอยมารังแกคุณชายน้อยผู้นี้อยู่เสมอ แต่ในวันนั้นหลี่อวิ้นกุยได้พลัดหลงกับแม่ครัวที่ออกมาซื้อของด้วยกัน แล้วเดินไปชนเข้ากับกลุ่มบุตรชายของแม่ค้าในตลาด จึงทำให้เขาถูกเด็กโตกลุ่มนั้นรุมทำร้าย แม้ว่าหล
Baca selengkapnya
บทที่ 4 (1/2) : ไม่คิดที่จะถอย (1)
เมิ่งเจียวซินก้าวขาลงไปนั่งแช่ตัวในอ่างอาบน้ำ ก่อนจะลองนำเอาความทรงจำของร่างนี้รวมเข้ากับเนื้อหาในนิยาย ตอนนี้น่าจะอยู่ช่วงที่ซุนเย่ผิงพาตัวเองไปขายให้กับหอโคมเขียวประจำเมืองเป็นแน่ เนื่องจากเนื้อหาในนิยายมีบรรยายเอาไว้ว่า... หลังจากที่ซุนเย่ผิงไปทำความรู้จักและพูดคุยกับสตรีในหอโคมเขียวนางหนึ่งมาได้สักพัก นางก็เริ่มมีความคิดที่จะใช้หน้าตาและเรือนร่างของตัวเองหลีกหนีจากความเป็นบ่าว แล้วด้วยความทะเยอทะยานและความรักสบายของนาง ซุนเย่ผิงจึงเริ่มวาดฝันเอาไว้ว่า ด้วยใบหน้านี้ของนาง หากนางก้าวขาเข้าไปในหอโคมเขียวก็คงจะได้ขึ้นเป็นนางคณิกาอันดับหนึ่งของที่นั่นเป็นแน่ แล้วเมื่อจูมี่ผู้เป็นป้าห่าง ๆ ของนางขอลากลับไปเยี่ยมบุตรชายที่บ้านเดิมเป็นเวลาหนึ่งเดือน นางก็รีบใช้ช่วงเวลานั้นขายตัวเองเพื่อเข้าไปฝึกศาสตร์ด้านต่าง ๆ ที่นางคณิกาพึงมีในหอโคมเขียวทันที ถึงแม้สุดท้ายซุนเย่ผิงจะไม่สามารถขึ้นเป็นนางคณิกาอันดับหนึ่งของหอโคมเขียวแห่งนั้นได้ แต่นางก็ได้ติดหนึ่งในสามของนางคณิกาผู้มีใบหน้างดงามของที่นั่น แล้วก็ด้วยเพราะเงินจากการประมูลคืนแรกของนาง เมื่อจูมี่เดินทางกลับมาถึงเรือนของเมิ่งเจ
Baca selengkapnya
บทที่ 4 (2/2) : ไม่คิดที่จะถอย (2)
เช้าวันถัดมา เมิ่งเจียวซินได้ยินเสียงคล้ายกับคนพยายามเปิดบานหน้าต่างดังมาจากทางบริเวณห้องครัวในช่วงต้นยามเหม่า (ยามเหม่า เวลา 05:00 – 06:59 น.) นางจึงมั่นใจแล้วว่าร่องรอยแปลก ๆ แถวบานหน้าต่างที่นางเห็นเมื่อคืน คือทางเข้าออกฉุกเฉินที่ซุนเย่ผิงได้เตรียมเผื่อเอาไว้ เนื่องจากสามคืนที่ผ่านมาเมิ่งเจียวซินคนเก่าจะไม่ลงกลอนที่บานประตูหลังเรือน เพราะรู้ว่าซุนเย่ผิงยังไม่กลับมา ซึ่งนางมองว่าเมิ่งเจียวซินคนเก่าได้สร้างโอกาสที่จะเกิดเรื่องเลวร้ายให้กับตนเอง แม้ว่าในนิยายมันอาจจะไม่มีอะไรเกิดขึ้น เพราะไม่มีการบรรยายถึงตัวละครเมิ่งเจียวซินในช่วงเวลานี้ แต่นางที่ต้องมาอาศัยร่างนี้ต่อไม่อาจทนแบกรับความเสี่ยงแบบที่เจ้าของร่างเดิมทำได้ แล้วอีกอย่างนางก็อยากรู้ด้วยว่า หากนางปิดพร้อมกับลงกลอนประตูและหน้าต่างทุกบาน ซุนเย่ผิงจะกลับเข้ามาในเรือนได้อย่างไร? พอเมิ่งเจียวซินเดินออกมาจากห้องพัก นางก็เห็นว่าซุนเย่ผิงกลับเข้ามาในเรือนได้แล้ว และยามนี้เจ้าตัวก็กำลังจัดการกับงานต่าง ๆ ของตนเองอยู่ เมิ่งเจียวซินจึงคิดอยากจะลองว่า ตนเองจะสามารถพูดคุยโต้ตอบกับคนในโลกใบนี้ได้หรือไม่? นางจึงเดินเข้าไปทักทายอี
Baca selengkapnya
บทที่ 5 (1/2) : เจ้าต้องรอดนะ (1)
เมิ่งเจียวซินพยายามรื้อความทรงจำ ก่อนจะหยุดฝีเท้าแล้วเงยหน้าขึ้นมาสนทนากับบุรุษและสตรีที่เดินตรงเข้ามาหานาง “ใช่เจ้าค่ะ” “ข้ามีนามว่าหมิงลู่ ส่วนนี่น้องสาวของข้ามีนามว่าหมิงจิวขอรับพวกข้าสองคนอยู่เรือนถัดจากเรือนของคุณหนูเมิ่งไปสองเรือน แล้วข้าก็เคยนำสมุนไพรไปขายให้กับท่านหมอเมิ่งที่เรือน คุณหนู...” “ข้าจำพวกท่านได้เจ้าค่ะ” เมิ่งเจียวซินตอบพร้อมกับยิ้มให้กับคนทั้งสองตรงหน้า “ข้าขออภัยนะขอรับ คุณหนูเมิ่งกำลังจะไปที่ใดหรือขอรับ?” “ข้ากำลังจะไปเก็บสมุนไพรที่ป่าท้ายหมู่บ้านเจ้าค่ะ” “เช่นนั้นคุณหนูเมิ่งรอข้าสักครู่ได้หรือไม่ขอรับ? คือข้า... เออ...คือพวกข้าว่าจะกลับเข้าไปล่ากระต่ายมาทำสำรับเย็นอยู่พอดีเลยขอรับ” เมิ่งเจียวซินเมื่อได้ยินที่บุรุษตรงหน้าพูด แล้วได้เห็นสีหน้าและท่าทางของอีกฝ่าย ดูเหมือนว่าบิดาของร่างนี้คงฝากให้หมิงลู่มาคอยช่วยดูแลความปลอดภัยให้กับนางเป็นแน่ เนื่องจากในความทรงจำที่ได้รับมา บิดาของร่างนี้เคยเอ่ยปากบอกกับเมิ่งเจียวซินคนเก่าเอาไว้ว่า หากในช่วงที่เจ้าตัวไม่อยู่แล้วมีอะไรเกิดขึ้น หรือหากต้องการความช่วยเหลือก็ให้ไปบอกกับบุรุษตรงห
Baca selengkapnya
บทที่ 5 (2/2) : เจ้าต้องรอดนะ (2)
เมื่อกลับเข้ามาในเรือนของตัวเอง เมิ่งเจียวซินก็นำสมุนไพรที่เก็บมาได้ไปทำความสะอาด ก่อนจะนำออกไปตาก จากนั้นนางจึงเดินเข้าไปจัดเตรียมสมุนไพรส่วนที่เหลือพร้อมกับอุปกรณ์สำหรับการปรุงยาสูตรแรกเอาไว้ หากเย็นนี้นางได้รับสมุนไพรอีกสองตัวมาจากหมิงลู่ พรุ่งนี้เช้านางก็จะสามารถเริ่มปรุงยาสูตรแรกได้เลย โดยยาตัวแรกที่นางคิดจะปรุงก็คือ ยาเม็ดที่พระเอกของนิยายเรื่องนี้ต้องกินทุกวัน เพื่อลดอาการเจ็บปวดจากยาพิษร้ายแรงในร่างกาย ซึ่งแน่นอนว่ายาที่นางปรุงย่อมต้องได้ผลดีกว่ายาที่หลี่อวิ้นกุยมีอยู่ แม้เนื้อหาในนิยายจะไม่ได้บอกว่า หลี่อวิ้นกุยถูกวางยาพิษชนิดไหน แต่ด้วยบทบรรยายที่เจ้าตัวได้กล่าวเย้ยหยันกับโชคชะตาชีวิตของตัวเองที่ว่า ‘เมื่อถึงเวลาที่พิษในร่างกายของข้าสำแดงอาการ แม้ข้าจะได้กินยา...แต่มันก็ทำได้เพียงแค่ช่วยลดความเหน็บหนาวที่ข้าจะต้องเผชิญในทุกค่ำคืนลงเท่านั้น เพราะตัวข้าไม่อาจเดินลมปราณหรือใช้พลังได้ดั่งใจต้องการอยู่ดี’ หากนำเอาประโยคนี้ไปรวมเข้ากับบทบรรยายที่ว่า ‘หลี่อวิ้นกุยไม่อาจถอนพิษออกจากร่างกายได้ทันการ’ เมิ่งเจียวซินก็มั่นใจไปถึงแปดในสิบส่วนเลยว่า หลี่อวิ้นกุยถูกวางยาพิษ
Baca selengkapnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status