Paket Baju Bayi Dari Suamiku

Paket Baju Bayi Dari Suamiku

Oleh:  Dyah Ayu Prabandari  Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
133Bab
51.6KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Sebuah paket baju bayi yang diterima Alia menjadi awal mula terbongkarnya rahasia besar Alvan. Mampukah Alia mengetahuinya? Apa rahasia besar yang suaminya sembunyikan?

Lihat lebih banyak
Paket Baju Bayi Dari Suamiku Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
133 Bab
Paket Baju Bayi
Aku bolak-balikkan paket yang ada di tangan. Bagaimana bisa Mas Alvan membelikanku pakaian bayi, sedang aku saja belum hamil. "Bapak yakin tidak salah alamat?" tanyaku pada seorang lelaki yang memakai jaket berwarna biru itu. "Benar Mbak, nama dan alamatnya sesuai dengan sini."Nama pengirimnya adalah Alvan Nugraha, dan itu adalah nama suamiku. Lalu untuk apa dia mengirim paket berisi pakaian bayi sedang diriku tak sedang hamil atau memiliki seorang bayi. Ku ingat tak ada kerabat dan saudara yang baru saja melahirkan. Namun kenapa suamiku membeli pakaian bayi? Dahiku mengkerut hanya memikirkan sebuah paket dari suamiku. Sebuah paket yang membuat diriku penasaran. "Atau jangan-jangan Mas Alvan punya selingkuhan?" bantinku curiga. Ah, tidak! Tidak! Suamiku tak mungkin selingkuh meski aku belum bisa memberikannya keturunan. Dia sangat mencintaiku meski sudah enam tahun usia pernikahan kami, tapi hingga detik ini Allah belum memberikan amanah. Berbagai program hamil sudah ku lakukan
Baca selengkapnya
Jawaban
Uhuuk ... Uhuuk.... Mas Alvan batuk mendengar pertanyaan terakhir yang kukatakan. Apa benar kamu selingkuh Mas? Kenapa kamu begitu gugup saat ku tanyakan hal itu? Sakit jika itu benar terjadi. Meski aku sangat mencintaimu tapi jika kamu berkhianat aku tak akan segan-segan meninggalkanmu. "Jawab Mas! Kenapa kamu diam saja!" Kunaikkan nada bicaraku. Kesal, suamiku hanya diam mematung. "I-itu sayang, Mas ...." Mas Alvan terdiam. Dia seperti tengah merangkai sebuah kalimat. Aku yakin dia hanya mencari alasan saja. "Sini Mas, jelaskan." Mas Alvan menepuk ranjang di sebelahnya. Ku geser tubuhku mendekatinya. Mas Alvan menarik tubuhku hingga kepala menempel tepat di dada bidangnya. Tak ada jarak di antara kami membuat aku dapat mendengar detak jantung suamiku dengan jelas. Dulu, ini adalah posisi ternyaman saat bersamanya. Aku bisa terlelap hanya dengan menempelkan tubuh di dada bidangnya. Namun hari ini terasa hambar karena sebuah paket baju bayi. Seakan ada tembok pembatas di antar
Baca selengkapnya
Bab 3
Sinar mentari menerobos cela jendela kamar. Mas Alvan sedikit terusik hingga menarik selimut menutupi kepala. Jarum jam sudah menujukkan angka tujuh, tapi suamiku masih enggan beranjak dari ranjang empuk.Mas Alvan memang sudah bangun untuk shalat subuh tapi tidur lagi dan sampai sekarang belum juga membuka mata. Katanya semalam ingin dinas ke luar kota. Tapi kok masih tidur saja. Kugelengkan kepala melihat kebiasaan buruk suamiku. Berulang kali ku nasehati tapi tetap saja diulangi lagi. Dan lama-lama aku lelah sendiri. Kumasukkan kemeja dan keperluan lain di dalam koper. Kuperiksa lagi semua barang agar tak ada satu pun yang tertinggal. Kasihan kan jika ada yang tertinggal. "Mas ...." Ku elus perlahan pipinya. Kukecup kening agar ia segera membuka mata. Ini adalah kebiasaan kami saat membangunkan pasangan. Mas Alvan mengeliat lalu membuka matanya perlahan. Senyum merekah tergambar jelas di bibirnya. Tetap mempesona meski belum mandi. "Morning sayang," ucapnya sambil mengecup mes
Baca selengkapnya
Dia orangnya
Apa yang dilakukan Mas Alvan di belakangku. Siapa yang berbicara di telepon dengan suamiku? Aku termenung beberapa saat. Tak tahu harus bagaimana? Duniaku seakan runtuh seketika. Ingin rasanya ku maki dan tampar Mas Alvan. Namun urung ku lakukan. Aku harus mencari kebenaran di balik paket baju bayi itu. Sejujurnya aku masih tak percaya jika suami yang kubanggakan begitu tega. Aku masih berharap jika ini mimpi dan saat terbangun semua akan kembali baik-baik saja. Namun sayang ini adalah sebuah kenyataan. Telingaku masih berfungsi dengan baik. Tak mungkin aku salah dengar. Suami yang kupuja ternyata menusuk dari belakang. Remuk redam hatiku. Kalau saja bukan suamiku pasti rasanya tak sesakit ini. Aku masih bersandar di dinding. Sekuat tenaga aku berdiri tegak. Ku hapus air mata yang terlanjur jatuh membasahi pipi. Aku tak akan bertanya apa pun kepada Mas Alvan. Karena dia pasti akan mencari alasan seperti paket baju kemarin. Aku akan mencari sendiri kebenarannya. Dan aku masih be
Baca selengkapnya
Cucu?
Aku keluar dari baby shop dengan perasaan tak karuan. Aku masih tak percaya dengan apa yang tadi ku lihat. Lalu untuk apa dia membeli pakaian bayi dan mengirimkannya ke alamat rumahku? Kata-kata Mas Alvan tadi pagi kembali terngiang di telinga. Gembrot? Bukankah dia selalu berkata jika aku seksi tapi kenapa tadi pagi justru mengolok tubuhku yang tak ideal. Apa yang ada di pikiranmu, Mas. Sekarang saja aku tak bisa mengerti bagaimana jalan pikiranmu. Dan Mas Alvan mengatakan sebuah rencana. Rencana apa yang dimaksud Mas Alvan. Kepalaku justru pusing memikirkan teka-teki itu. Aku duduk di depan kemudi sambil memijit kepala yang terasa berdenyut. Bayang-bayang Mas Alvan berkhianat menari-nari dalam angan. Aku tak pernah bermimpi ada di posisi seperti ini. Kukira cerita suami berkhianat hanya ada di dalam sinetron atau novel belaka. Namun ternyata aku sendiri mengalaminya.Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Beri aku petunjuk"Mbak! Mbak!" Seorang tukang parkir berjalan mendekat k
Baca selengkapnya
Keluarga Ular
Aku masih mematung di balik tembok. Air bah yang berusaha ku bendung akhirnya jebol juga. Kututup mulut dengan kedua tangan agar tangisku tak terdengar. Dada terasa sesak mendengar kenyataan itu. Sakit dan perih yang kini ku rasakan. Bahkan aku masih tak menyangka, bukan hanya Mas Alvan yang berdusta tapi seluruh keluarganya bermuka dua. Di depanku saja mereka baik tapi di belakang mereka menikam. Apa yang membuat mereka tega kepadaku? Aku bahkan rela membantu biaya kuliah Sasya. Aku juga yang telah membiayai kehidupan mereka. Membangun rumah hingga seperti ini. Namun balasan apa yang ku dapat? Sebuah pengkhianatan. Ya Tuhan. Selama ini aku memelihara ular yang kapan saja bisa melilit dan mematuk hingga racunnya perlahan membuatku terkapar tak berdaya. "Pokoknya kalian harus bersikap seperti biasa. Jangan sampai dia curiga dan rencana kita semua akan hancur berantakan!" Rencana? Rencana apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Apa ini menyangkut pernikahanku atau menyangkut harta.
Baca selengkapnya
Kekuarga Ular 2
Ibu dan Sasya berjalan ke arahku. Mataku membulat sempurna melihat penampilan kedua perempuan beda usia itu. Sasya memakai rok di atas lutut dengan kaos ketat. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Sedang ibu memakai dress bermotif bunga-bunga dengan warna pink cerah. Dandanan wanita paruh paya itu cetar membahana. Lipstik merah menyala dan bulu mata palsu menambah penampilannya semakin sempurna. Bahkan ibu sudah seperti ondel-ondel. Astaga, aku ingin tertawa tapi takut ibu merajuk dan gagal lah rencanaku. "Kamu yakin mau pakai baju itu Sa?""Yakinlah mbak, aku cantik gini."Aku hanya diam tanpa berdebat. Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan ibu dan Sasya terlihat riang. Tunggulah kebahagiaan kalian tak akan berlangsung lama. "Nah gini dong Mbak,ke salon biar cantik tidak gembrot dan dekil?" Ibu langsung mencubit tangan Sasya dari belakang. "Ibu apaan sih! Memang kenyataannya begitu," ucap Sasya tanpa disaring. Kuhembuskan nafas kasar. Memang benar ucapan Sasy
Baca selengkapnya
Kejutan Untuk Keluarga Ular
Krucuuuk... Krucuuuk .... Rupanya cancing di perut sudah protes meminta jatah. Niat hati ingin diet tapi sepertinya hari ini ku urungkan saja. Aku harus bertenaga untuk menghadapi duo ular. Meleng sedikit saja ular itu bisa lepas dari genggaman. Kulihat sekeliling,mencari rumah makan terdekat. Tepat di samping bangunan salon ada sebuah rumah makan yang menjual bakso dan mie ayam. Segera ku langkahkan kaki menuju ke rumah makan. "Mau pesan apa mbak?" tanya seorang wanita muda yang memakai hijab instan berwarna biru tua itu. Kulihat menu makanan yang ditempel di dinding ruko. Berbagai jenis bakso ada di sini. Dari bakso lava, bakso beranak, bakso urat dan bakso telur. "Bakso beranak satu, Mas. Tanpa mie ya," ucapku lalu duduk di bangku pojok sebelah kanan. "Minumnya apa Mbak?" Seorang pelayan menyusul ke tempat dudukku. "Es jeruk dengan gula sediki." Pelayan itu mengangguk lalu pergi dari hadapanku. Tak berapa lama seorang pelayan mengantarkan bakso pesananku. Dalam mangkuk hany
Baca selengkapnya
Kemarahan Alvan
Aku masih di kamar mandi. Bersembunyi dari amukan ibu dan Sasya. Biarlah mereka membayar sendiri perawatan salon. Memang aku ATM mereka hingga setiap pengeluaran harus aku yang membayar. O, tidak bisa! Aku bukan lagi Alia yang mudah mengabulkan keinginan mereka. Terimalah kejutan pertamaku. Masih ada kejutan-kejutan yang lain. Bersiaplah karena aku tak pernah main-main. Aku mulai bosan menunggu di kamar mandi. Tak mungkin jika aku berada di sini. Bisa-bisa duo ular akan curiga kepadaku. Dengan mencoba tenang aku melangkah menuju kasir. Belum sampai saja jantungku sudah berdetak tak menentu. Aku yakin akan ada masalah baru setelah insiden ini. Tapi aku tak akan takut, toh akulah pemegang kendali karena semua harta adalah milikku. Suara keributan sudah tak terdengar lagi. Apa duo ular itu sudah bisa menyelesaikan masalah tanpa mengandalkan diriku. Ah, aku jadi penasaran. Ku percepat langkah kakiku. Ibu dan Sasya tengah duduk di depan kasir dengan wajah di tekut masam. Aku yakin mere
Baca selengkapnya
Kepanikan Alvan
Pov AlvanAku begitu gembira melihat peper bag berwarna merah di atas ranjang. Tepatnya di sebelah pakaianku. Alia memang selalu memberikan kejutan untukku. Tapi sayang, dia tak bisa hamil. Dan itu alasan kenapa aku menikah lagi. Ya, meski tanpa sepengetahuan darinya. Karena lelaki boleh memiliki lebih dari satu istri. Toh aku memiliki uang. Uang Alia lebih tepatnya. Tapi selama dia tak tahu tak masalah kan? "Kamu pasti kasih surprise ya sayang?" ucapku senang. Alia masih diam membisu, bahkan tatapannya tajam ke arahku. Ada apa ini? Tak biasanya dia seperti itu."Ini untuk Mas, sayang?" tanyaku lagi sambil mengambil paper bag itu. Mataku membulat sempurna saat melihat isi peper nag berwarna merah itu. Pakaian bayi! Apa maksud Alia memberiku pakaian bayi. Apa dia tengah hamil? Atau Jangan-jangan .... "Kenapa tegang gitu Mas? Bukankah pakaian bayi itu kamu yang beli?" tanyanya datar. Ada aura kemarahan dari ucapannya. Ku telan saliva dengan susah payah. Siapa yang mengirim pakaian
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status