ARINDA
Sangat baik untuk ukuran kamar seorang pelacur, pikir Arinda ironi.
Arinda mendongakkan kepalanya, menghalau cairan bening meluncur saat ingatan tentang alasan kenapa dia bisa berada di sini muncul. Dadanya terasa diremas dengan tangan tak kasat mata rasanya. Pada akhirnya tangisannya pecah juga, dia mulai terduduk di lantai kamar yang dingin itu. Meraung kesal kepada Tuhan kenapa semua ini bukan hanya mimpi. Arinda masih saja berharap jika semua ini hanyalah mimpi buruk dan saat dia terbangun dia akan menemukan ibunya tersenyum hangat kepadanya. Tapi, sekali lagi Arinda menyadarinya bahwa semua ini nyata.
"Tuhan, ambil saja nyawaku ...." lirihnya sebelum kemudian dia kehilangan kesadarannya
Bab Populer