Sentuhan Panas Sahabat Pacarku
“Aga cuma nemenin aku mabuk, terus dia baik ajak aku ke apartemennya. Jadi harusnya kamu bersyukur! Punya aga yang baik hati begitu.’’
Kata-kata itu seperti api yang disiramkan ke luka hati Ara. Tubuhnya bergetar, matanya memerah menahan tangis.
Namun, bukannya meledak, Ara malah tersenyum getir, senyum yang penuh luka dan kepahitan.
“Hah, aku bersyukur? Ohh, oke. Iya, aku yang salah. Aku harus bersyukur,” suaranya gemetar, namun tegas, seakan menampar balik kedua orang di hadapannya.
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ara, tapi dia tetap menatap ke atas, menahan agar tak jatuh di depan Marsha. Dengan suara bergetar, ia berkata penuh penekanan,
الفصول الرائجة