Detektif Zen: Rencana Paling Sempurna
“Ah, ya. Semangat, Pah. Jangan lupa kabari Ibu nanti, ya.”
“Iya, Sayang. Pasti Papah kabarin nanti.”
Setelah menutup telepon, Aipda Zen mengenakan pakaian khusus, penutup kepala, sarung tangan, dan masker yang sebelumnya telah diolesi minyak kayu putih lalu masuk ruang autopsi. Ruangan itu seperti kamar autopsi pada umumnya. Berwarna putih, dingin, sempit dan beraroma tidak menyenangkan. Di atas meja baja nirkarat, tepat di hadapan Aipda Zen, Bripka Arif, Dokter Stefani dan asistennya, Dokter Clara, tergeletak kantong mayat berwarna orange yang mengeluarkan bau sangat busuk. Lampu-lampu berpenerangan tinggi dinyalakan. Dengan cekatan seorang profesional Dokter Stefani membuka ritsleting kant
Bab Populer