Main Belakang
Nadanya datar, tanpa emosi, namun sarat akan ancaman mutlak.
Jantung Aira serasa jatuh bebas ke dasar jurang. Tangannya refleks naik, memegangi ujung syal itu erat-erat. "K-kenapa, Mas? Udara pagi ini dingin, aku agak kurang enak badan—"
"Aku bilang buka, Aira," potong Rian, suaranya merendah satu oktaf, terdengar begitu berbahaya.