Titipan Cinta Bentara
“Gimana apa?”
“Aku udah nunggu kamu pipis loh, Ra.” Gerutu Mas Gala.
“Hahaha.” Lara tergelak.
“Kamu jangan pura-pura lupa.”
“Iya, iya. Aku mau jujur kalau …” Kalimat Lara terputus, “Kalau sebenarnya puisi itu baru aku buat kemarin, setelah Mas Gala curhat ditinggalkan oleh wanita itu. Puisi itu untuk Mas Gala, seseorang yang aku maksud di puisi itu kamu, Mas.” Jelas Lara, untung saja mereka berbicara melalui sambungan telepon, kalau tidak, Mas Gala akan melihat sebereapa meronanya pipi Lara karena menahan malu malam itu.
Chapitres populaires