JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
Aku tidak sakit, hanya saja di bawah pusarku seperti kemasukan kelereng, terasa bergelinding, berdegub-degub.
"Enggak, Bang. Mungkin makan sahurnya kurang."
Bang Oar ternyata memperhatikan tanganku yang menekan perut sesekali.
Kucoba memfokuskan diri ke jalan. Memperhatikan ke dua lelaki itu tengah membicarakan koran yang memberitakan orang hilang di gunung Sinabung. Mungkin karena lama temenan sama setan, makanya sudah tahu seluk beluk makhluk halus. Seperti saat ini, lelaki yang memegang kemudi terus mengiayakan ucapan Bang Oar. Tapi, karena berlarut memikirkan Bibi, aku tidak fokus mendengarkan dari awal.