Menjemput Senja di Langit Palu
Ia meneleponku malam demi malam, membiarkan suara beratnya mengalir tenang di seberang sana, menemani sisa kesadaranku yang perlahan menguap hingga akhirnya aku terlelap.
Malam Minggu, ia mengajakku pergi ke sebuah taman bunga yang terletak di pinggiran kota.
Tempat itu tampak seperti potongan dunia fiksi. Hamparan bunga warna-warni membentang sejauh mata memandang, mendominasi sejauh pandangan dengan palet warna kuning dan merah menyala yang berpendar cantik di bawah sorot lampu taman. Warnanya sangat serasi dengan baju yang kukenakan hari itu—sebuah kemeja kotak-kotak kuning-putih cerah. Di tengah taman itu, sebuah balon udara raksasa bertambat megah, bergoyang pelan ditiup angin malam.