Aku sering kepikiran bagaimana frasa sederhana di Indonesia kadang kehilangan nuansa begitu diterjemahkan, dan 'bahagia itu simple' termasuk salah satunya. Secara langsung, terjemahan paling umum dan paling natural ke dalam bahasa Inggris adalah "Happiness is simple." Itu menangkap struktur subjek-predikat yang sama: 'bahagia' menjadi 'happiness', 'itu' berfungsi sebagai penegasan, dan 'simple' menjadi 'simple'.
Namun, nuansa penting: kalau konteksnya ingin menekankan bahwa menjadi bahagia itu mudah atau tidak rumit, pilihan lain seperti "Being happy is simple" atau "It's simple to be happy" terasa lebih natural dan conversational dalam bahasa Inggris sehari-hari. Di sisi lain, kalau mau lebih puitis atau menekankan sumber kebahagiaan, frasa seperti "Happiness lies in simple things" atau "Simple happiness" bisa lebih tepat.
Aku sering memakai variasi ini tergantung suasana tulisan—kalau caption Instagram yang santai, aku pilih "Happiness is simple." Kalau menulis esai reflektif, aku condong ke "Happiness lies in the simple things." Intinya, terjemahan literal bekerja, tapi memilih bentuk yang paling alami tergantung pada nada, audiens, dan tujuan kalimat itu sendiri.