Silakan Menikah Lagi, Mas!
Mataku kembali memanas, lalu aku terisak.
Aku sering menonton film atau sinetron tentang pengkhianatan. Aku pikir, mereka terlalu lebay sampai menangis, meraung-raung. Aku pikir, ketika dikhianati, mudah saja. Cukup cari pengganti. Namun, setelah mengalami sendiri, nyatanya tidak sesimpel itu. Ada tikaman tak kasat mata yang nyerinya aku yakin tidak akan pernah sembuh. Kebencian, amarah, air mata, dan trauma menjadi pengiring dari pengkhianatan itu.
“Hah! Hidupku lawak sekali.” Aku mencoba tertawa agar sebak dalam dada ini mereda. Namun, bukannya reda, justru aku seperti orang gila yang menangis sambil tertawa.
Sikat na Kabanata