Menantu Tegas, Ipar Panas, Mertua Lemas
kataku lagi.
"Bagaimana keadaan Ibumu?" tanya Bapak dengan nada kerinduan yang amat jelas.
Sudah hampir sepuluh tahun bapak meninggal, dan hari ini kami bisa berada di sini bersama. Duduk, dan bercerita, aku bisa menyentuhnya, Bapak terasa sangat nyata. Bukan mimpi ataupun ilusi.
"Baik, Ibu masih tetap menjaga cintanya untuk Bapak!" Aku menjawab cepat, sambil tersenyum bangga. "Dia bahkan menolak lamaran dari Haji Maulana, Pak," aduku padanya.