Pernikahan Penuh Luka
“Kamu pikir Bela akan mundur cuma karena kamu datang ke sini? Dia nggak main-main, Bara.”
“Aku juga nggak,” balasnya tegas.
Ponselku bergetar di tanganku. Nama Bela muncul lagi. Aku tidak mengangkatnya. Bara memperhatikanku, lalu mengangguk kecil seolah mengerti.
“Aku akan bicara dengannya,” katanya. “Hari ini.”
“Jangan,” kataku cepat. “Jangan sekarang.”
“Kalau bukan sekarang, kapan?” Bara berdiri. “Sampai dia nekat?”