Bias Cinta
ucap Cinta sambil menarik kain dasternya ke belakang pinggang, “kayaknya harus pilates ini. Entar beliin alatnya, ya, Bi. Itu yang bentuknya kayak ranjang. Apa, sih, namanya? Aku nggak ngerti. Biar nanti instrukturnya aja yang ke sini.”
“Kenapa nggak berenang aja?”
“Aku nggak suka berenang.”
“Ya sudah, terserah kamu.” Bias mengangkat putrinya yang mulai merengek. Ia bangkit, lalu menggendong Cibi di bahunya. Mengusap pelan punggungnya. “Cibi capek, ya? Nggak bisa tengkurap, ya?”