Darah dan Takdir
Ia mungkin lebih kuat, tetapi Saraswati lebih cepat.
Dari balik dedaunan, ia bisa mendengar derap langkahnya yang semakin dekat. Ia menunggu dengan sabar, tubuhnya menyatu dengan bayangan pohon. Begitu pria itu cukup dekat, ia melesat keluar dari persembunyiannya, melancarkan serangan dengan belati kecilnya, mengincar titik lemah yang tidak terlindungi oleh zirahnya. Belatinya menembus sisi tubuh pria itu, tepat di bawah tulang rusuk. Untuk pertama kalinya, pria itu terhuyung. Namun, ia masih belum kalah. Dengan gerakan kasar, ia menarik dirinya menjauh, darah segar merembes dari luka yang kini terbuka. Matanya menatap Saraswati dengan tatapan penuh kemarahan, tetapi juga keterkejutan.
“Kau…
Hot Chapters