Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan
Hanif menarik kursi kayu di seberang meja, lalu duduk dengan santai.
"Aku beli minuman hangat. Diminum dulu," kata Hanif tenang.
"Otak itu sama seperti mesin motor yang sudah lama mogok di gudang, Naura. Perlu dibersihkan dulu olinya, dipanaskan perlahan-lahan. Nggak bisa kalau kamu paksa langsung lari kencang di hari pertama," lanjut Hanif. "Asal kamu berproses, harusnya tidak masalah. Jadi, jangan menyiksa dirimu sendiri."