Kontrasepsi di Kamar Adikku
sahutku seraya berjalan menuju dapur, mencuci buah itu lalu mengupasnya beberapa biji sebelum akhirnya aku suguhkan kepada istri.
"Jaga istri kamu baik-baik. Jangan sampai stres. Kasihan dia. Dia itu hatinya begitu sensitif. Kemarin kenapa kamu tidak pamit saat pergi bekerja, Lim? Kamu tahu, seharian istri kamu terlihat murung. Dia nggak mau makan, matanya berkaca-kaca terus. Pasti dia sedih sekali karena kamu pergi tanpa pamit. Jangan pernah menyakiti perasaan perempuan, Salim. Supaya segala urusan kamu menjadi mudah. Jangan buat istri kamu menangis," nasihat Bunda panjang lebar.
"Iya, Bun." Aku mengangguk lemah. Menyesali semua perlakuanku kepada istri seharian ini.
Hot Chapters