Poor Fatma
Seketika aku memandang nanar ke pintu, lantas beralih ke halaman depan, lalu jalanan .
“Ah, sekarang giliranmu bercerita. Fatma, katakan padaku, bagaimana dengan kehidupanmu?”
“Aku, ehm ... ah, aku ....”
Mbak Ajeng menaikkan sedikit alisnya sambil berdeham lirih, meminta kepastian agar aku membuka jati diri. Senyumnya menenangkan, tetapi aku yang tak bisa tenang detik ini. Apa yang bisa kuceritakan kepadanya? Hidupku terlalu biasa saja untuk diungkap. Tak ada yang menarik, tak ada yang indah untuk dibanggakan. Lagi pula, ini bukan waktu yang tepat untuk mendongeng.
Sikat na Kabanata