Suamiku, Adik Iparku
“Oh, ya? Karena ini cuma pernikahan pura-pura. Jadi malam ini aku akan tidur di kamar Lia, ya? Kau nggak pa-pa ‘kan tidur sendiri?”
Aku menggelengkan kepala, “Nggak pa-pa, kok, kau temani saja Lia. Biar aku tidur sendiri disini.”
Ferry akhirnya pergi, meninggalkanku sendiri di kamar tamu yang kuharap menjadi kamar pengantin kami. Nyatanya pernikahan ini memang hanya pernikahan di atas kertas, bukan pernikahan pada umumnya.
Pedihnya hatiku, di malam pernikahanku, aku memeluk kekosongan karena lelaki yang kunikahi memilih tidur di kamar adikku. Inilah aku dengan pernikahan yang tak dianggap.