Malam pertama setelah bercerai terasa seperti adegan dalam film indie yang terlalu dramatis—sunyi, tapi penuh monolog batin. Aku memutuskan menghabiskannya dengan menonton 'Eternal Sunshine of the Spotless Mind' di laptop, sambil memakan semangkuk mi instan yang kuracik dengan telur setengah matang. Ada sesuatu yang meta tentang menonton film tentang menghapus kenangan sementara diri sendiri justru tenggelam dalamnya.
Tiba-tiba, tetangga sebelah memutar lagu jazz yang samar-samar terdengar. Alih-alih sedih, aku malah tersenyum. Rasanya seperti universe bilang, 'Lihat, dunia masih berputar.' Aku mengambil notebook dan menulis tiga hal sederhana yang bisa kulakukan besok: jalan pagi, coba resep smoothie baru, dan hubungi teman lama. Keteraturan kecil itu memberiku anchor di tengah chaos emosi.