Menggunakan aksara Jawa untuk bercerita itu seperti menyelami warisan budaya yang kaya. Pertama, kuasai dulu dasar penulisan Hanacaraka—mulai dari huruf hingga pasangan dan sandhangan. Awalnya memang terasa rumit, tapi setelah terbiasa, ritme menulisnya jadi mengalir sendiri. Aku suka menggabungkan struktur cerita modern dengan nuansa klasik, misalnya memakai tembang macapat sebagai kerangka narasi. Contohnya, cerita pendek tentang pertempuran antara kebaikan dan kejahatan bisa diikat dalam pola Dhandhanggula, memberi kesan epik namun puitis.
Yang seru, aksara Jawa punya ‘rasa’ tersendiri saat dibaca. Ketika menulis dialog, aku sering bermain dengan aksara Murda untuk menegaskan karakter tokoh, atau memakai Rekan untuk kata serapan yang memberi sentuhan kontemporer. Tantangannya justru di bagian itu—menyeimbangkan tradisi dan kreativitas tanpa kehilangan esensi. Terakhir, selalu uji baca karya dengan lantang! Aksara Jawa dirancang untuk ‘didengar’, jadi jika alur terasa janggal saat dilafalkan, mungkin perlu disesuaikan lagi.