MENIKAHI PRIA BURUK RUPA
Arka mendekat dan mengulurkan tangan kemudian menyentuh dahiku dan mendongakkannya, "Hei, kamu ini istriku, sudah pasti kalau kamu diundang, otomatis aku diundang juga."
"Baru ingat kamu kalau punya istri?" ucapku sinis. Kuturunkan tangan Arka yang mendarat di dahiku. Jarak kami memang hanya beberapa inci, bahkan aku dapat mendengar napasnya yang memburu, tetapi aku tidak merasa getaran apa-apa seperti saat malam pertama.
Kali ini ia membungkuk dan menepuk pipiku," Ingat, dong. Kamu adalah istri yang kunikahi bukan karena cinta, tetapi terpaksa karena cintaku hanya untuk Endah."
Chapitres populaires