ISTRIKU SERING MENANGIS
cetus Sita.
"Sita, kalau memang yang terbaik Caesar, lebih baik dipercepat. Jangan tunggu sampai normal, khawatir bayimu yang jadi taruhan," ungkapku pada Sita.
Sita menoleh ke arah Bu Diah, ia pun menundukkan wajahnya.
"Masalah biaya? Gratis dari saya!" teriak Bu Anika. Kemudian dengan perasaan haru, Sita pun menyeka air mata yang sudah keluar dari kelopak matanya.