Pintu Tertutup, Begitu Juga Hatiku
Setiap kali hendak duduk, ia harus bersandar pada nisan terlebih dahulu, sebentar-sebentar menahan napas batuknya dari dalam dada seperti suara kayu tua yang ditarik-tarik, setiap tarikan napas membawa rasa perih yang menyobek.
Pak Harto sudah berkali-kali membujuknya untuk kembali ke rumah, mencari perawat, namun setiap kali Dharma hanya menggelengkan kepala. Jari-jarinya yang kurus terus mengelus-elus namaku di atas batu nisan, seperti orang yang membelai benda paling berharga di dunia. "Reni tidak suka sepinya rumah itu." Selalu itu yang ia gumamkan. "Di sini ada pohon mahoni yang ia suka, dan ada anak yang menemani. Ia tidak kesepian."
Bab Populer