Suamiku, Musim Dingin Tanpa Akhir
Untuk cinta yang tak pernah mati hanya terlahir kembali dengan cara lain
Abiyasa berdiri di sana, mengenakan jas abu-abu yang sama seperti di hari kami pertama kali bertemu kembali dan ia menatapku lama.
"Winnie," katanya pelan. "Aku tidak tahu kenapa aku selalu memanggilmu begitu dalam pikiranku, tapi setiap kali aku melihatmu, aku merasa seperti pulang."
Air mataku mengalir. "Kamu ingat?"
Ia menggeleng pelan. "Tidak semuanya, tapi hatiku ingat."
Aku menatapnya dan dalam tatapan itu aku tahu, kami tidak lagi harus memaksa masa lalu untuk hidup kembali, karena cinta kami sudah melahirkan masa kini yang baru. Cinta yang lupa pada nama, tapi tidak pada rasa.