Cinta Cita
“Aku, tuh, pengen hidup tenang, Kak. Aku capek kalau harus marah, harus ... aku tiap lihat Arya bawaannya pasti sakit hati. Pasti pengen hiiih! Aku pengen baik sama dia, tapi ... nggak bisa.”
“Karena ingat Almira?” tebak Kasih.
Cita mengangguk. “Ingat Arya, pasti ingat Almira.”
“Aku nggak bisa komen lagi kalau gitu.” Kasih bersandar pelan, lalu menepuk perutnya yang mulai terasa lapar. “Karena semua itu tergantung kamunya. Mau orang-orang ngasih ribuan saran, tapi kalau dari kamunya masih “sakit”, ya, percuma aja, Cit. Kenapa aku tiba-tiba pengen cilok, ya?”
Sikat na Kabanata