MADU YANG BERACUN
“Rasa cinta ini seperti kutukan yang sangat sulit dihilangkan. Ia tinggal di pikiranku, menyusup dalam diam, bahkan saat aku tertawa, ia tetap ada mengingatkanku bahwa luka itu tidak ingin sembuh.
Aku lelah, tapi aku juga belum bisa benar-benar melepaskan. Seolah perasaan ini menuntut untuk diakui, dipahami, meski hanya membuatku semakin rapuh.”
Embun menggenggam erat-erat buku-buku itu hingga tertekuk. Rasanya dia ingin menghancurkannya. Tak lama kemudian Embun melemparkan buku itu ke dalam kamar sembarangan arah.