Cahaya Biru
Gigiku bergemeretak menahan marah yang mendidih, hampir saja meluap kembali.
Dengan napas yang kuatur, kubisikkan pada diri sendiri, "Sabar, Cahaya. Sabar. Orang sabar di sayang Tuhan." Matanya yang penuh harap menatapku, tidak menyadari betapa seriusnya masalah ini.
Dalam hati, aku bertanya-tanya, harus menggunakan strategi apa lagi agar Biru benar-benar serius dalam mengerjakan tugasnya. Bagaimana mungkin dia lulus jika jawabannya sama sekali tidak memadai?
Hot Chapters