Suami Hina, Kunikahi Saja Kakakmu!
seruku terengah-engah begitu ia melepaskan tautannya.
Napasku memburu, jantungku berdegup kencang seperti mau copot.
Mas Angga tidak menjauh. Wajahnya masih berada hanya beberapa sentimeter dari wajahku.
Matanya menatapku dengan sorot yang sangat intens, sorot yang aku sendiri tak bisa membacanya antara cinta, nafsu, atau rasa ingin memiliki yang egois.
“Jadilah wanitaku, Hana. Aku akan memberikan semua yang tidak bisa suamimu berikan padamu. Harta, perhatian, bahkan harga diri yang selama ini dia injak-injak. Aku bisa memberikan semuanya.”