Cinta Menjadi Dendam
Mungkin karena melihat wajahku yang pucat dan tubuhku meringkuk di balik selimut membuatnya merasa iba, dia pun membungkuk, ingin menciumku.
Namun, aku mendorongnya menjauh.
Jari-jarinya sempat kaku, lalu akhirnya ia hanya tersenyum lembut.
"Sayang, hari ini kamu sudah sangat tersakiti. Aku sudah memesan restoran romantis yang sangat ingin kamu datangi. Besok siang jangan lupa datang, ya?"
Hatiku terasa dingin, aku hanya mengangguk pelan sambil mengiyakan.
Keesokan paginya, Bima beralasan bahwa ia harus pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan menyuruhku agar berangkat lebih dulu ke restoran dengan mobil.
Hot Chapters