Tetangga Mesumku, Ternyata Dosenku!
Jadi, selama ini setiap sentuhan, setiap malam yang mereka lalui, Damar melakukannya dengan rasa jijik yang ditekan.
Serina merosot ke lantai, punggungnya bersandar pada dinding yang dingin. Ia tidak lagi menangis dengan suara keras. Air matanya mengalir dalam diam, membasahi pipinya yang pucat. Ia mengelus perutnya yang masih rata, tempat di mana benih pria yang baru saja menghancurkan hatinya itu tumbuh.
"Maafkan Ibu, Nak..." bisik Serina lirih. "Ibu pikir, dengan mencintainya, Ibu bisa menyembuhkan lukanya. Ternyata, cinta Ibu justru menjadi racun baginya.”
Hot Chapters