Godaan Memikat Abang Ipar
“Nah, itu! Nenek nggak mau kamu dicap sebagai pelakor. Malu-maluin. Apalagi sampai digosipin sama ibu-ibu nanti bisa nyebar satu komplek, tahu sendiri ibu-ibu di sini gimana mulutnya kalau ngomongin aib orang. Kayak diri sendiri nggak punya aib aja.”
Omelan nenek tadi malam terus terngiang di kepala Nara. Siapa juga sih yang mau jadi pelakor? Kaisar aja yang kelewatan genit jadi orang. Udah punya istri juga masih aja ngelirik gadis lain.
Nara bisa mengomel seperti itu seolah kejadian malam kemarin tak pernah terjadi. Lalu, begitu dia ingat, dia menjambak rambutnya sendiri, berharap ingatannya akan tercabut sekalian.