MERTUA IDAMAN
Mungkin ini sudah pas.
Saat kucicipi, aku cukup terkejut. Ini sangat asin. Ah, iya. Gula! Mungkin aku harus mengimbanginya dengan rasa manis.
“Ibu, gulanya habis, ya?”
“Oh, iya. Ibu lupa belum nuangin ke toples. Gulanya ada di laci bawah, Mir! Tuang ke toples juga, ya!”
“Oh, di laci, ya?” Aku memeriksa laci yang ada di hadapanku kemudian mengambil satu bungkus gula.