Tawa anak tengah malam
Hanya bunyi kursi berderit saat seorang bapak tua bergeser gelisah.
Mbah Sastro pun akhirnya membuka suara pelan, “Arwah yang mati tidak wajar, tidak akan pergi dengan tenang, Nak. Mereka akan mencari, menuntut, dan rumahmu ....” Pria tua itu menatap Arman tajam. "Adalah pusara yang tak kasat mata.”
Arman mengangkat kedua tangannya, mencoba menolak dengan bercanda.
“Mbah, jangan horor-hororin saya gini, dong. Saya pulang kampung mau nostalgia, bukan mau buka hotel untuk arwah gentayangan.”
Hot Chapters