Renjana (Airin dan Hardian)
Ia terus semangat mengaduk semen meski perutnya keroncongan karena sedari pagi belum makan berat, hanya segelas kopi pahit dan sepotong roti pemberian Imam teman kerjanya tadi saat sampai, tidak mampu mengganjal perut dan tubuhnya yang dipakai untuk bekerja keras.
Kulitnya coklat terbakar matahari, peluh menetes dari pelipis juga punggung, terlihat dari kaosnya yang basah. Hardian bersemangat karena hari ini ia gajian. Airin pasti senang kalau uang gajinya lebih, mengingat itu ia seolah-olah lupa kejadian tadi pagi.
Baginya, Airin adalah perempuan yang sangat berharga, ia sadar belum bisa membahagiakannya. Maka dari itu ia tak akan menyerah menghadapi realitas kehidupan yang melelahkan ini.
Hot Chapters