Istri Rahasia Tuan Hagan
tidak ada intonasi tinggi, tidak ada sorot mata mengunci yang memaksa, malam ini sepertinya Benar, ia hanya ingin didengar.
“M—maaf…” ucap Belvara lirih dengan rasa malunya yang sudah lantang menolak.
Hagan memeluk Belvara erat, membenamkan wajahnya di ceruk leher Belvara. “Saya merindukan aroma tubuhmu.”
Belvara refleks mendorong Hagan. “Kan! Bapak bohong malam ini gak mau main?”
Hagan kembali mendekapnya, tak peduli seberusaha apa Belvara menjauhkan tubuhnya. “Saya, hanya rindu aroma tubuhmu, rasanya, aroma ini menjadi penenang saat pikiran Saya sedang kacau.”
Bab Populer