Kakak iparku yang terlalu sempurna
Dan begitulah: satu kabar baru, satu harapan baru, satu tanggung jawab baru — dan cinta kami, yang dulu terasa mustahil tumbuh di tanah retak, kini bertunas dengan subur.
Sambil bersandar di dada Arga malam itu, aku memejamkan mata. Di antara keheningan, aku mendengar detak jantungnya berpadu dengan detak harapan di dalam perutku. Aku berbisik lirih, “Terima kasih, ya Allah… atas kesempatan kedua ini.” Dalam kesederhanaan, aku merasa lengkap. Cinta, rumah, dan kini… kehidupan baru yang kami nanti-nanti bersama.
Hot Chapters