Ada momen dalam hidup di mana emosi berbaur jadi satu, seperti ketika mantan pacar tiba-tiba mengirim pesan 'I miss you but I hate you' setelah hubungan yang penuh drama. Rasanya seperti diguncang badai—di satu sisi, ada kenangan manis yang bikin rindu, tapi di sisi lain, luka-luka lama masih perih. Aku pernah mengalami ini setelah putus dengan seseorang yang sering manipulatif. Dia tiba-tiba muncul di DM, dan kalimat itu seperti tamparan. Rindu karena dulu pernah bahagia, tapi benci karena ingat betapa toxic-nya.
Yang bikin rumit, otak langsung kebanjiran flashback: saat-saat romantis vs pertengkaran menjatuhkan. Aku akhirnya memilih tidak membalas. Kadang, yang terbaik adalah membiarkan masa lalu tetap jadi masa lalu, meskipun perasaan campur aduk itu nyata banget. Mungkin dia benar-benar rindu, atau hanya sekadar ingin validasi. Tapi buatku, lebih baik menjaga jarak daripada terjerumus lagi ke lingkaran yang sama.