Aku Bosan Menjadi Istrimu
Tangan ini pula, yang selalu mendekapku dikala sedih, maupun gembira.
"Buk, maafkan Rini. Rini belum bisa membahagiakan Ibuk."
Ibuk melipat mukenanya. Lalu memandangku lekat. Bibirnya tersenyum, namun dari sorot matanya, aku bisa menangkap kesedihan. Mungkin, akulah pencipta kesedihan itu.
"Tidak ada seorang Ibu manapun, yang membenci anaknya, Nduk," jawabnya seraya tersenyum. Senyum itu, yang selalu membuatku tenang.
Hot Chapters