KARMA
jawabnya.
"Dit, kita masuk yuk ke restoran," ajakku. Radit langsung mengangguk. Kami pun menyusul mereka ke dalam.
Aku sengaja memilih kursi tepat di belakang Lingga. Posisi kami saat ini saling membelakangi. Sekalipun Asta melihatku, dia hanya bisa melihat punggungku. Sementara Radit, dia mengeluarkan sapu tangan dan mengikat menutupi mulutnya. Persis sekali seperti ninja yang hanya kelihatan matanya. Bersama Radit, aku merasa sedikit lebih tenang. Tak lama pelayan datang menghampiri kami. Radit pun langsung memesan makanan dengan asal tanpa suara dan hanya menunjuk dengan jari.
ตอนยอดนิยม