KINASIH
pintanya seraya menyerahkan benda tersebut pada Asih.
Dengan hati masih carut-marut dan tangan yang bergetar, Asih membukanya. Di sana, terdapat sebuah kalung dengan liontin hati seperti yang dikatakan sang nenek. Bukan hanya itu, secarik kertas kecil terdapat di dalamnya. Perlahan kertas dibuka, lalu dibaca dengan hati-hati. Di sana tertulis sebuah kalimat yang cukup mengena di hatinya, dia yakin jika itu adalah tulisan tangan sang ayah yang kini telah berpulang.
'Jangan pernah menganggap kami orang lain, Nak. Kamu adalah permata indah yang kami miliki.'
Hot Chapters