Resep Rahasia Sang Pecundang
Itu bukan sekadar bayangan; itu adalah sebuah luka pada realitas, sebuah sobekan di kain semesta tempat kebencian murni merembes masuk.
Tawa Ki Gendeng, yang kini terdengar seperti beling yang digerus, tidak lagi bergema di pikiran, tetapi keluar dari mulut bayangan itu, memenuhi dapur dengan getaran yang membuat gigi terasa ngilu.
“Kau lihat, Radit?” desis bayangan itu, matanya yang kosong menatap Luna dengan tatapan posesif yang memuakkan. “Kau bertarung demi ‘kebenaran’, demi ‘warisan’. Kata-kata besar yang kosong. Tapi pada akhirnya, kau hanyalah seorang pria yang takut kehilangan mainannya.”
Hot Chapters