Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku
Uap air hangat beraroma minyak bunga matahari perlahan menguap dari permukaan bak mandi marmer, memberikan sedikit relaksasi yang sangat dibutuhkan oleh otot-otot Celestine yang menegang.
Namun, pikirannya tetap tidak bisa tenang. Setelah membersihkan diri dan mengenakan jubah sutra yang ringan, ia kembali ke depan cermin besar di kamarnya. Tatapannya tertuju pada telapak tangan kanannya. Tanda kemerahan yang ia dapatkan dari insiden gas semalam tidak memudar. Sebaliknya, garis-garisnya tampak lebih jelas, membentuk pola yang menyerupai retakan kristal atau mungkin—jika ia boleh berspekulasi—ujung sebuah pena bulu yang tajam.